RS Syarif Hidayatullah – Mata sering disebut sebagai jendela dunia, namun bagi jutaan orang di Indonesia, jendela tersebut perlahan-lahan tertutup oleh kabut putih yang dikenal sebagai katarak. Sebagai penyebab utama kebutaan di seluruh dunia, katarak sering kali dianggap sebagai bagian tak terelakkan dari proses penuaan. Namun, kurangnya kesadaran akan gejala awal sering kali membuat penderita terlambat mendapatkan penanganan medis, sehingga kualitas hidup menurun drastis.
Katarak bukan sekadar masalah penglihatan buram. Kondisi ini dapat membatasi mobilitas, meningkatkan risiko jatuh pada lansia, hingga menyebabkan isolasi sosial. Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, kami memahami bahwa deteksi dini dan edukasi yang tepat adalah kunci untuk mencegah kebutaan permanen akibat katarak.
Ilustrasi perbandingan penglihatan nmata normal dengan mata yang terkena katarak (Foto: Dok. smartbintaro)
Apa Itu Katarak secara Medis?
Secara medis, katarak adalah kondisi di mana lensa mata yang secara alami jernih menjadi keruh atau berkabut. Lensa mata terletak di belakang pupil dan berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke retina guna menghasilkan gambar yang tajam. Seiring bertambahnya usia, protein di dalam lensa dapat menggumpal dan membentuk kekeruhan.
Kekeruhan ini menghalangi cahaya masuk ke retina, sehingga gambar yang diterima otak menjadi kabur, pudar, atau terdistorsi. Penting untuk dipahami bahwa katarak tidak tumbuh di atas mata, melainkan terjadi di dalam lensa mata itu sendiri. Kondisi ini biasanya berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan sering kali menyerang kedua mata, meski tingkat keparahannya bisa berbeda.
Mengapa Katarak Sering Tidak Disadari?
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan katarak adalah sifatnya yang "diam". Pada tahap awal, kekeruhan mungkin hanya mempengaruhi sebagian kecil lensa, sehingga penderita tidak merasakan perubahan yang signifikan. Banyak orang mengira bahwa penglihatan yang memudar adalah hal yang wajar seiring bertambahnya usia.
Namun, ketika katarak semakin tebal, gejala akan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari seperti menyetir di malam hari, membaca tulisan kecil, atau mengenali wajah orang dari kejauhan. Jika dibiarkan tanpa penanganan, katarak dapat mencapai tahap "matur" atau matang sempurna, di mana lensa menjadi benar-benar putih dan menyebabkan kebutaan total.
Gejala Katarak yang Harus Diwaspadai
Mengenali gejala katarak sejak dini dapat membantu Bunda dan Ayah mendapatkan penanganan sebelum komplikasi terjadi. Berikut adalah tanda-tanda yang perlu diperhatikan:
- Penglihatan Berkabut atau Buram: Pandangan terasa seperti tertutup tirai tipis atau seperti melihat melalui kaca yang beruap.
- Sensitivitas terhadap Cahaya: Mata terasa sangat silau saat melihat lampu kendaraan atau sinar matahari yang terik.
- Munculnya "Halo" pada Lampu: Melihat lingkaran cahaya di sekitar sumber lampu, terutama saat malam hari.
- Penglihatan Ganda: Objek tampak menjadi dua saat dilihat dengan satu mata (diplopia monokular).
- Perubahan Warna: Warna-warna cerah tampak memudar, menguning, atau kecoklatan.
- Sering Berganti Ukuran Kacamata: Jika resep kacamata atau lensa kontak berubah terlalu sering dalam waktu singkat, ini bisa menjadi tanda perubahan pada lensa akibat katarak.
- Pandangan Malam Menurun: Kesulitan melihat dengan jelas di ruangan yang redup atau saat gelap.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penuaan memang merupakan faktor risiko utama (katarak senilis), namun ada berbagai faktor lain yang dapat mempercepat munculnya katarak, antara lain:
- Paparan Sinar UV: Paparan sinar matahari berlebih tanpa pelindung mata (kacamata hitam).
- Penyakit Sistemik: Penderita diabetes melitus memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami katarak di usia yang lebih muda.
- Obat-obatan: Penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang.
- Trauma Mata: Cedera atau benturan keras pada mata di masa lalu.
- Gaya Hidup: Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebih.
- Katarak Kongenital: Bayi yang lahir dengan katarak akibat infeksi selama kehamilan (seperti rubella).
Langkah Diagnosis dan Penanganan Medis
Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, tim dokter spesialis mata akan melakukan pemeriksaan komprehensif menggunakan alat mutakhir seperti Slit-lamp examination untuk melihat struktur lensa secara detail dan Retinoskopi untuk mengukur tajam penglihatan.
Hingga saat ini, tidak ada obat tetes atau kacamata yang bisa menghilangkan katarak. Satu-satunya cara untuk mengatasi katarak adalah melalui prosedur pembedahan. Kabar baiknya, operasi katarak kini jauh lebih modern, cepat, dan aman. Teknik Fakoemulsifikasi yang digunakan di rumah sakit kami memungkinkan penghancuran lensa yang keruh dengan gelombang ultrasonik melalui sayatan yang sangat kecil tanpa perlu jahitan, diikuti dengan penanaman lensa intraokular (IOL) permanen.
Kesimpulan
Penyakit katarak merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan gangguan berkepanjangan maupun komplikasi kebutaan permanen. Penerapan pola hidup sehat, perlindungan mata dari sinar matahari, serta pemeriksaan rutin ke dokter mata dapat membantu mendeteksi katarak sejak dini sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
Apabila penglihatan Anda mulai kabur, sering merasa silau, atau mengalami penurunan kualitas pandangan yang mengganggu aktivitas, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis mata di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
“Kembalikan Jernihnya Pandangan, Jaga Kesehatan Mata Sejak Dini.”
Referensi :Alodokter. (2024, 30 September). Katarak pada manula - Gejala, penyebab, dan pengobatan. Diakses dari https://www.alodokter.com/katarak-pada-manulaHalodoc. Katarak. Diakses dari https://www.halodoc.com/kesehatan/katarakKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 10 Oktober). Katarak: Penyakit mata yang sering tidak disadari hingga terlambat. Diakses dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3721/katarak-penyakit-mata-yang-sering-tidak-disadari-hingga-terlambat -AdelweisNF-

