Waspada! 5 Penyakit Gigi dan Mulut yang Paling Rentan Dialami Lansia
RS Syarif Hidayatullah – Memasuki fase lanjut usia (lansia), perhatian terhadap kesehatan tubuh sering kali terfokus pada penyakit-penyakit sistemik besar seperti hipertensi, diabetes melitus, ataupun gangguan jantung. Namun, Rumah Sakit Syarif Hidayatullah mengingatkan bahwa ada satu aspek kesehatan vital yang kerap kali terabaikan namun memiliki dampak masif terhadap kualitas hidup orang tua, yaitu kesehatan gigi dan mulut (oral). Secara biologis, jaringan ikat, pembuluh darah, dan saraf di dalam rongga mulut lansia mengalami proses penuaan dan degenerasi yang serupa dengan organ tubuh lainnya. Akibatnya, benteng pertahanan alami rongga mulut melemah, membuat lansia menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap berbagai infeksi dan kerusakan struktural gigi yang parah.
Banyak keluarga di kawasan Tangerang Selatan yang menganggap hilangnya gigi atau rasa tidak nyaman saat mengunyah makanan sebagai hal yang "wajar" dan maklum terjadi pada orang tua. Padahal, gangguan pada rongga mulut yang dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat dapat menjadi gerbang utama masuknya bakteri berbahaya ke dalam aliran darah, yang memicu komplikasi infeksi sistemik seperti pneumonia aspirasi hingga memperburuk kondisi penyakit jantung kronis. Selain itu, rasa sakit pada gigi membuat lansia malas makan, yang berujung pada malnutrisi dan penurunan drastis pada sistem kekebalan tubuh mereka. Artikel ini akan membedah secara radikal mengenai lima penyakit gigi dan mulut yang paling sering menyerang populasi lansia serta bagaimana langkah penanganan medis komprehensif untuk mengatasinya.
A. 5 Penyakit Gigi dan Mulut Utama pada Populasi Lansia
Berdasarkan data klinis dan referensi kedokteran gigi, berikut adalah lima gangguan kesehatan oral yang memiliki prevalensi tertinggi pada kelompok geriatri:
1. Periodontitis (Penyakit Gusi Kronis)
Periodontitis merupakan infeksi gusi berat yang merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Pada lansia, kondisi ini umumnya merupakan akumulasi dari sisa plak dan karang gigi (kalkulus) yang tidak dibersihkan dengan sempurna selama bertahun-tahun. Penyakit ini diperparah oleh penurunan produksi air liur dan melambatnya regenerasi sel gusi pada usia tua. Gejalanya dimulai dari gusi yang mudah berdarah saat menyikat gigi, gusi yang tampak menyusut atau menjauh dari mahkota gigi (resesi gusi), hingga tahap akhir di mana gigi menjadi goyang dan tanggal dengan sendirinya karena hilangnya fondasi tulang rahang.
2. Karies Gigi dan Karies Akar (Root Caries)
Jika karies atau gigi berlubang pada anak-anak biasanya terjadi di area permukaan kunyah gigi, maka karies pada lansia memiliki karakteristik yang jauh lebih kompleks, yaitu sering menyerang bagian akar gigi (root caries). Seiring bertambahnya usia, gusi lansia mengalami penurunan secara alami sehingga bagian akar gigi yang sensitif dan tidak terlindungi oleh lapisan email yang keras menjadi terekspos. Ketika akar gigi ini terpapar oleh asam dari sisa makanan dan bakteri, proses pembusukan akan terjadi jauh lebih cepat dan langsung mendekati saraf gigi, menimbulkan rasa nyeri yang hebat serta risiko gigi patah yang tinggi.
3. Mulut Kering Kronis (Xerostomia)
Xerostomia atau kondisi mulut kering yang ekstrem bukanlah penyakit tunggal, melainkan keluhan yang sangat umum terjadi pada lansia akibat penurunan fungsi kelenjar ludah. Kondisi ini sebagian besar dipicu oleh efek samping konsumsi obat-obatan jangka panjang untuk penyakit kronis (seperti obat hipertensi, antidepresan, atau diuretik) yang merangsang penurunan produksi silsilah air liur. Padahal, air liur (saliva) memiliki peran krusial sebagai pembersih alami yang membilas sisa makanan dan menetralkan asam bakteri. Tanpa air liur yang cukup, rongga mulut lansia akan menjadi lingkungan yang sangat asam, memicu bau mulut ekstrem (halitosis), kesulitan menelan, serta mempercepat kerusakan gigi secara masif.
4. Kandidiasis Oral (Infeksi Jamur Mulut)
Kandidiasis oral adalah infeksi pada lapisan mukosa mulut yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari jamur Candida albicans. Lansia sangat rentan mengalami kondisi ini karena adanya penurunan sistem imun alami tubuh, penggunaan obat kortikosteroid, atau akibat kebersihan kacamata gigi/gigi palsu yang buruk. Gejalanya ditandai dengan munculnya bercak-bercak putih seperti sisa susu di permukaan lidah, langit-langit mulut, atau pipi bagian dalam. Jika bercak ini dikerok, jaringan di bawahnya akan tampak merah meradang dan terasa sangat perih atau seperti terbakar, yang membuat lansia kesulitan untuk mengecap rasa makanan dan kehilangan nafsu makan.
5. Kehilangan Gigi (Edentulisme) dan Gangguan Sendi Rahang
Dampak akhir dari penyakit karies dan periodontitis yang tidak dirawat pada lansia adalah hilangnya gigi secara sebagian besar atau keseluruhan (edentulisme). Kehilangan gigi yang tidak segera diganti dengan gigi palsu (denture) yang tepat akan menyebabkan pergeseran posisi gigi yang tersisa serta memicu penyusutan volume tulang rahang secara drastis. Selain mengganggu fungsi estetika wajah yang tampak menjadi lebih tua (kempot), kondisi ini memberikan beban kunyah yang tidak seimbang pada sendi rahang (temporomandibular joint/TMJ), memicu rasa nyeri kronis di area sekitar telinga dan kepala saat lansia membuka mulut atau mengunyah.
B. Faktor Risiko Utama yang Memperberat Kesehatan Oral Lansia
Tingginya angka kejadian penyakit gigi pada kelompok lansia merupakan interaksi kompleks antara faktor penuaan biologis dan kebiasaan harian yang kurang tepat.
- Penurunan Kemampuan Motorik: Banyak lansia yang mengalami radang sendi (osteoarthritis) pada jemari tangan atau menderita stroke, sehingga mereka kesulitan untuk memegang sikat gigi dengan mantap dan melakukan gerakan menyikat gigi secara bersih dan menyeluruh.
- Pengaruh Penyakit Sistemik: Penderita diabetes melitus yang kadar gula darahnya tidak terkontrol memiliki sirkulasi darah yang buruk pada jaringan gusi, yang secara drastis menurunkan kemampuan gusi dalam melawan infeksi bakteri, sehingga mempercepat keparahan periodontitis.
- Penggunaan Gigi Palsu yang Tidak Higienis: Banyak lansia yang enggan melepas gigi palsu mereka saat tidur malam atau malas membersihkannya secara berkala. Sisa makanan yang terperangkap di bawah gigi palsu menjadi media pertumbuhan bakteri dan jamur yang sangat subur.
C. Protokol Penanganan dan Perawatan Kesehatan Gigi Lansia di Rumah Sakit
Rumah Sakit Syarif Hidayatullah menerapkan pendekatan kedokteran gigi geriatri yang holistik dan personal untuk menangani masalah oral pada pasien lanjut usia:
- Pembersihan Karang Gigi (Scaling dan Root Planing): Langkah awal untuk menghentikan peradangan gusi dengan membersihkan seluruh tumpukan kalkulus yang mengeras di bawah batas gusi.
- Restorasi dan Perawatan Saluran Akar: Untuk mempertahankan gigi asli lansia sebisa mungkin melalui penambalan gigi modern atau perawatan saraf gigi jika lubang sudah mencapai pulpa.
- Pembuatan Gigi Palsu secara Presisi: Pembuatan gigi palsu lepasan maupun permanen yang disesuaikan secara ergonomis dengan struktur rahang lansia untuk mengembalikan fungsi pengunyahan yang optimal.
- Manajemen Xerostomia: Pemberian resep air liur buatan (artificial saliva) atau obat perangsang sekresi kelenjar ludah, serta edukasi untuk meningkatkan konsumsi air putih secara berkala.
D. Tips Hidup Sehat: Panduan Pendampingan Kesehatan Mulut Lansia di Rumah
Peran anggota keluarga atau caregiver sangat menentukan keberhasilan penjagaan kesehatan oral lansia sehari-hari. Beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan di rumah meliputi:
- Modifikasi Alat Sikat Gigi: Jika lansia mengalami keterbatasan motorik, gunakan sikat gigi elektrik atau modifikasi gagang sikat gigi manual menjadi lebih besar (misalnya dibungkus busa) agar lebih mudah digenggam oleh orang tua. Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride tinggi untuk memperkuat email akar gigi.
- Perawatan Gigi Palsu yang Benar: Pastikan lansia melepas gigi palsu mereka sebelum tidur malam. Sikat gigi palsu menggunakan sikat khusus dan rendam di dalam wadah berisi air bersih atau cairan pembersih khusus gigi palsu semalaman agar gusi dapat beristirahat dan terhindar dari infeksi jamur.
- Pola Makan Ramah Gigi: Sajikan makanan dalam tekstur yang lunak namun tetap kaya akan nutrisi, batasi asupan makanan manis atau lengket yang mudah memicu karies, serta pastikan lansia selalu berkumur dengan air putih setelah makan.
Referensi:Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. (2025, 25 September). 5 masalah gigi lansia yang perlu diwaspadai.. https://fkg.umsida.ac.id/5-masalah-gigi-lansia-yang-perlu-diwaspadai/Halodoc. (2021, 18 Agustus). 5 penyakit gigi dan mulut yang rentan dialami lansia.. https://www.halodoc.com/artikel/5-penyakit-gigi-dan-mulut-yang-rentan-dialami-lansiaHello Sehat. (n.d.). Masalah gigi dan mulut yang paling sering menyerang lansia.. Ditinjau secara medis oleh drg. Sarah chairani Sehan. https://hellosehat.com/gigi-mulut/perawatan-oral/masalah-gigi-dan-mulut-lansia/