Mengenal Hamil Anggur secara Medis: Bukan Klenik, Ini Penjelasan Ilmiahnya
RS Syarif Hidayatullah – Di tengah masyarakat Indonesia, istilah "hamil anggur" sering kali diselimuti oleh berbagai mitos dan cerita mistis. Sebagian orang mengaitkannya dengan hal-hal di luar nalar atau gangguan klenik karena bentuknya yang menyerupai butiran buah. Padahal, dalam dunia kedokteran, hamil anggur atau mola hidatidosa adalah kondisi medis murni yang berkaitan dengan kegagalan pembentukan janin akibat kelainan genetik saat pembuahan.
Memahami kehamilan anggur dari perspektif medis sangat penting bagi para calon Bunda agar tidak terjebak dalam rasa takut yang tidak perlu atau penanganan yang salah. Deteksi dini melalui pemeriksaan medis menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Apa Itu Hamil Anggur (Mola Hidatidosa)?
Secara medis, hamil anggur adalah komplikasi kehamilan yang langka di mana sel telur yang telah dibuahi berkembang secara tidak normal. Bukannya tumbuh menjadi janin dan plasenta yang sehat, sel-sel tersebut justru membentuk sekumpulan kista (kantong berisi cairan) yang menyerupai gerombolan buah anggur di dalam rahim.
Kondisi ini terjadi karena adanya kesalahan genetik pada saat proses pembuahan. Karena sel-sel ini tumbuh secara abnormal, kehamilan tersebut tidak dapat dipertahankan dan tidak akan berkembang menjadi bayi yang sehat.
Jenis-Jenis Hamil Anggur
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan membagi hamil anggur menjadi dua jenis utama berdasarkan proses pembentukannya:
- Hamil Anggur Lengkap (Complete Hydatidiform Mole): Pada kondisi ini, jaringan janin sama sekali tidak terbentuk. Hal ini terjadi ketika sel telur yang "kosong" (tidak mengandung materi genetik ibu) dibuahi oleh sperma. Akibatnya, semua jaringan yang tumbuh di dalam rahim adalah jaringan plasenta yang abnormal.
- Hamil Anggur Sebagian (Partial Hydatidiform Mole): Pada jenis ini, jaringan janin mungkin mulai terbentuk namun tidak sempurna dan tidak akan bisa bertahan hidup. Hal ini biasanya terjadi ketika satu sel telur yang normal dibuahi oleh dua sperma sekaligus, sehingga terjadi kelebihan materi genetik (kromosom).
Menepis Mitos: Mengapa Hamil Anggur Bisa Terjadi?
Penting untuk ditegaskan bahwa hamil anggur bukan disebabkan oleh makanan, perilaku ibu, apalagi gangguan mistis. Berikut adalah faktor risiko medis yang diakui secara ilmiah:
- Usia Ibu: Risiko meningkat secara signifikan pada wanita yang hamil di usia ekstrem, yaitu di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun.
- Riwayat Sebelumnya: Bunda yang pernah mengalami hamil anggur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali pada kehamilan berikutnya.
- Faktor Gizi: Beberapa penelitian menunjukkan adanya kaitan antara kekurangan vitamin A atau beta-karoten dengan risiko mola hidatidosa.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pada awalnya, hamil anggur mungkin terasa seperti kehamilan normal. Namun, seiring waktu, akan muncul gejala-gejala yang lebih berat, antara lain:
- Pendarahan Vagina: Biasanya terjadi pada trimester pertama, berwarna merah terang hingga coklat tua.
- Mual dan Muntah yang Parah: Jauh lebih hebat daripada morning sickness biasa akibat kadar hormon hCG yang melonjak drastis.
- Ukuran Perut Tidak Wajar: Rahim tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan usia kehamilan yang seharusnya (misalnya usia 2 bulan tapi perut tampak seperti 4 bulan).
- Keluarnya Jaringan Seperti Anggur: Dalam beberapa kasus, kista-kista kecil berbentuk butiran keluar dari vagina.
- Tekanan Darah Tinggi: Munculnya tanda-tanda preeklamsia pada awal kehamilan.
Prosedur Penanganan Medis
Hamil anggur harus segera ditangani untuk menghindari risiko pendarahan hebat atau perubahan jaringan menjadi ganas (kanker). Langkah-langkah yang dilakukan biasanya meliputi:
- Kuretase (Suction Curettage): Prosedur untuk mengeluarkan seluruh jaringan abnormal dari dalam rahim.
- Pemantauan Kadar hCG: Setelah kuret, pasien harus melakukan tes darah secara berkala (biasanya selama 6-12 bulan) untuk memastikan kadar hormon hCG kembali ke nol. Jika kadar tetap tinggi, hal itu menandakan masih ada jaringan abnormal yang tersisa.
- Penundaan Kehamilan: Pasien disarankan untuk tidak hamil terlebih dahulu selama masa pemantauan agar dokter bisa membedakan antara kenaikan hCG akibat kehamilan baru atau akibat sisa jaringan mola.
Kesimpulan
Kehamilan anggur atau mola hidatidosa merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan secara cepat dan tepat guna mencegah resiko pendarahan maupun komplikasi jangka panjang yang berbahaya. Pemahaman yang benar dari sisi medis sangat diperlukan agar Bunda tidak terjebak dalam mitos yang menyesatkan. Penerapan pola hidup sehat serta pemeriksaan kehamilan sejak dini sangat membantu dalam mendeteksi adanya kelainan secara cepat.
Apabila muncul gejala seperti pendarahan yang tidak wajar atau mual yang sangat berat di awal kehamilan, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Sp.OG) di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan pemeriksaan USG dan penanganan yang tepat sesuai standar medis.
“Jangan Terpaku Mitos, Jaga Kesehatan Kehamilan dengan Konsultasi Medis Sejak Dini.”
Referensi:
Bunda Pintar. Jangan percaya mitos! Ini yang perlu bunda ketahui soal hamil anggur. Diakses dari https://www.bundapintar.id/artikel/jangan-percaya-mitos-ini-yang-perlu-bunda-ketahui-soal-hamil-anggur
Espos News. (2022, 25 Januari). Mitos hamil anggur bagi perempuan Banjar yang melanggar pamali. Diakses dari https://news.espos.id/mitos-hamil-anggur-bagi-perempuan-banjar-yang-melanggar-pamali-1239654
Nakita Grid. (2024, 9 Januari). Apa itu hamil anggur? Mitos dan fakta yang perlu diketahui oleh bumil. Diakses dari https://nakita.grid.id/read/023988580/apa-itu-hamil-anggur-mitos-dan-fakta-yang-perlu-diketahui-oleh-bumil