Impaksi Gigi Bungsu: Mengapa Terasa Nyeri, Bahaya Komplikasi, dan Prosedur Bedah Mulut Odontektomi

Impaksi Gigi Bungsu: Mengapa Terasa Nyeri, Bahaya Komplikasi, dan Prosedur Bedah Mulut Odontektomi

fShare
Tweet

RS Syarif Hidayatullah – Gigi bungsu, atau secara medis dikenal sebagai geraham ketiga (third molar), sering kali menjadi topik yang menakutkan bagi banyak orang. Muncul di penghujung masa remaja atau awal kedewasaan (usia 17-25 tahun), gigi ini seharusnya menjadi pelengkap fungsional dalam sistem pengunyah. Namun, karena keterbatasan ruang pada rahang manusia modern, gigi ini sering kali gagal tumbuh secara normal dan terjebak di dalam gusi atau tulang. Kondisi inilah yang disebut sebagai Impaksi Gigi Bungsu.

Banyak pasien di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah datang dengan keluhan nyeri rahang yang menjalar hingga ke telinga, tanpa menyadari bahwa sumber masalahnya adalah gigi bungsu yang tumbuh miring. Memahami impaksi bukan sekadar mengetahui adanya rasa sakit, tetapi menyadari bahwa ini adalah kondisi anatomis yang memerlukan penanganan spesialis bedah mulut sebelum merusak kesehatan gigi dan jaringan saraf di sekitarnya.

Ilustrasi Gigi Bungsu (Impaksi). (Foto: Dok. RS Syarif Hidayatullah)

Apa Itu Impaksi Gigi Bungsu secara Medis?

Secara klinis, impaksi didefinisikan sebagai kegagalan gigi untuk tumbuh sepenuhnya ke posisi fungsional yang benar pada waktunya, karena terhalang oleh hambatan fisik berupa gigi tetangga, jaringan gusi yang padat, atau tulang rahang yang tebal.

Berdasarkan tingkat keparahannya, impaksi dibagi menjadi dua kategori besar:

  1. Impaksi Jaringan Lunak (Soft Tissue Impaction): Mahkota gigi telah menembus tulang namun masih tertutup oleh jaringan gusi.
  2. Impaksi Tulang (Bone Impaction): Gigi masih sepenuhnya atau sebagian tertanam di dalam tulang rahang. Kondisi ini biasanya memerlukan prosedur bedah yang lebih kompleks.

 

Klasifikasi Posisi Impaksi: Bagaimana Gigi Anda Tumbuh?

Dokter spesialis bedah mulut di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah menggunakan klasifikasi khusus untuk menentukan tingkat kesulitan operasi, di antaranya:

  • Mesioangular (Mesial): Gigi miring ke arah depan, menekan gigi geraham kedua. Ini adalah jenis yang paling sering memicu kerusakan gigi tetangga.
  • Distoangular (Distal): Gigi miring ke arah belakang, sering kali menyebabkan nyeri yang menjalar ke arah telinga atau sendi rahang (TMJ).
  • Horizontal: Gigi tumbuh mendatar seolah-olah sedang "tidur" di dalam tulang rahang. Tekanan yang diberikan jenis ini sangat besar.
  • Vertical: Gigi berada pada posisi tegak, namun gagal muncul ke permukaan karena rahang terlalu sempit.

 

Mengapa Impaksi Harus Segera Ditangani? (Bahaya Komplikasi)

Mengabaikan impaksi gigi bungsu hanya karena rasa nyerinya bersifat hilang-timbul adalah sebuah kesalahan medis. Berikut adalah bahaya yang mengintai jika impaksi dibiarkan tanpa tindakan:

  1. Perikoronitis (Infeksi Akut): Ini adalah komplikasi paling umum. Sisa makanan terjebak di bawah gusi yang menutupi gigi impaksi (operculum), menjadi sarang bakteri, dan menyebabkan peradangan hebat, nanah (abses), hingga demam.
  2. Karies dan Kerusakan Gigi Tetangga: Tekanan gigi bungsu dapat merusak enamel gigi geraham kedua di depannya. Karena sulit dibersihkan, kedua gigi tersebut bisa berlubang secara bersamaan.
  3. Kista dan Resorpsi Tulang: Kantung benih yang membungkus gigi impaksi dapat terisi cairan dan berkembang menjadi kista odontogenik. Kista ini bersifat destruktif; ia dapat menghancurkan tulang rahang di sekitarnya dan mematikan saraf.
  4. Gangguan Sendi Rahang: Posisi gigi yang miring dapat mengubah cara Anda menggigit (maloklusi), yang pada jangka panjang memicu gangguan sendi rahang dan sakit kepala kronis.

 

Gejala-Gejala "Red Flag" yang Harus Diwaspadai

Jika Anda mengalami gejala berikut, segera jadwalkan pertemuan dengan unit Bedah Mulut di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah:

  • Nyeri Berdenyut: Rasa sakit di area belakang mulut yang menyebar ke kepala atau leher.
  • Trismus: Kesulitan membuka mulut lebar-lebar karena otot rahang terasa kaku.
  • Halitosis (Bau Mulut): Bau mulut yang menetap meskipun sudah menyikat gigi, akibat pembusukan di area impaksi.
  • Pembengkakan Gusi: Gusi tampak merah tua, mengkilap, dan sangat sensitif saat tersentuh lidah atau makanan.
  • Rasa Tidak Enak di Mulut: Adanya cairan asin atau pahit yang merembes dari gusi belakang (indikasi adanya nanah).

 

Prosedur Odontektomi: Solusi Modern dan Aman

Penanganan definitif untuk gigi impaksi bukanlah sekadar obat pereda nyeri, melainkan Odontektomi (bedah pengangkatan gigi bungsu). Di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, prosedur ini dilakukan dengan langkah-langkah medis yang ketat:

  1. Diagnostik Radiologi: Menggunakan rontgen Panoramic atau CBCT untuk memetakan posisi akar terhadap saraf Alveolaris Inferior agar terhindar dari risiko mati rasa permanen (parestesia).
  2. Anestesi yang Nyaman: Pasien diberikan bius lokal atau sedasi tergantung tingkat kesulitan dan kecemasan pasien.
  3. Teknik Bedah Presisi: Dokter bedah mulut akan membelah gigi menjadi beberapa bagian kecil guna meminimalkan trauma pada tulang rahang dan mempercepat proses penyembuhan.
  4. Penjahitan Steril: Area operasi dijahit dengan benang yang dapat menyatu dengan jaringan atau dilepas setelah satu minggu.

 

Panduan Pemulihan Pasca-Odontektomi

Pemulihan yang sukses bergantung pada kedisiplinan pasien dalam mengikuti instruksi dokter:

  • 24 Jam Pertama: Jangan berkumur terlalu keras dan jangan menggunakan sedotan agar bekuan darah (blood clot) tidak lepas. Bekuan darah sangat penting untuk mencegah Dry Socket.
  • Kompres Dingin: Tempelkan es batu di pipi luar untuk mengurangi pembengkakan selama 12 jam pertama.
  • Diet Makanan Lunak: Konsumsi bubur, yoghurt, atau sup hangat (bukan panas) selama beberapa hari.
  • Kepatuhan Obat: Habiskan antibiotik yang diresepkan untuk mencegah infeksi sekunder.

 

Kesimpulan

Penyakit impaksi gigi bungsu merupakan kondisi yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan gangguan berkepanjangan maupun komplikasi infeksi yang lebih luas ke jaringan saraf dan tulang rahang. Jangan menunggu hingga muncul pembengkakan hebat; deteksi dini melalui rontgen gigi secara rutin adalah langkah terbaik untuk mencegah prosedur bedah yang lebih sulit di masa depan.

Apabila Anda merasakan nyeri di geraham belakang, sering mengalami gusi berdarah di area tersebut, atau merasa susunan gigi depan mulai berantakan, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis yang tepat.

“Atasi Masalah Gigi Bungsu Anda dengan Tepat, Lindungi Senyum Sehat Anda Selamanya.”

 

Referensi (APA Style)

Alodokter. (2025, 23 Desember). Impaksi gigi - Gejala, penyebab, dan pengobatan. Diakses dari https://www.alodokter.com/impaksi-gigi

Rumah Sakit Universitas Indonesia. Impaksi gigi bungsu: Penyebab, gejala, dan penanganannya. Diakses dari https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/impaksi-gigi-bungsu-penyebab-gejala-dan-penanganannya

Halodoc. (2025, 22 September). Impaksi gigi bungsu, ini gejala dan cara mengatasinya. Diakses dari https://www.halodoc.com/artikel/impaksi-gigi-bungsu-ini-gejala-dan-cara-mengatasinya

-Adelweis NF-

Copyright ©2026 RS Syarif Hidayatullah


main version